Minggu, 02 September 2012

TEKNIK PENANGKARAN ULAR SANCA BATIK (Python Reticulatus)



I.              PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Ular Sanca Kembang atau Sanca Batik adalah sejenis ular tak berbisa yang berukuran besar. Ukuran terbesarnya dikatakan dapat melebihi 10 meter, lebih panjang dari anakonda (Eunectes) yang merupakan ular terbesar dan terpanjang di Amerika Selatan. Nama-nama lainnya adalah ular sanca, ular sawah, sawah-n-etem (Simeulue), ular petola (Ambon) dan dalam bahasa Inggris reticulated python atau sering kali disingkat retics.

 

Ular Sanca Batik (Python reticulatus) merupakan salah satu satwa liar yang bermanfaat selain sebagai penyeimbang ekosistem, juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat khusunya pelaku usaha untuk memenuhi beberapa kebutuhan antara lain sebagai bahan baku tas, dompet, ikat pinggang dan cinderamata ataupun untuk koleksi dan atraksi / peragaan dalam berbagai acara atau peristiwa (event).

 

Dengan demikian Ular Sanca Batik (Python reticulatus) banyak diburu orang untuk diambil kulitnya yang indah dan bermutu baik, tercatat lebih dari 500.000 potong kulit (ekor) Ular Sanca Batik (Python reticulatus) diperdagangkan setiap tahunnya. Sebagian besar kulit-kulit ini diekspor dari Indonesia, dengan sumber utama Sumatera dan Kalimantan.

Jumlah tersebut semuanya adalah hasil tangkapan dari alam dengan sistem kuota yang direkomendasikan oleh LIPI yang kemudian dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan RI.

Meskipun system kuota yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan RI ata rekomendasi LIPI, lama kelamaan tentunya akan sangat mengkhawatirkan karena mengurangi populasinya di alam.

Catatan dari penangkapan ular komersial di Sumatra mendapatkan bahwa sanca kembang yang ditangkap ukurannya bervariasi antara 1 m hingga 6 m, dengan rata-rata ukuran untuk jantan 2.5 m dan betina antara 3.1 m (Medan) – 3.6 m (Palembang). Kira-kira sepertiga dari betina tertangkap dalam keadaan reproduktif (Shine et al. 1999). Hingga saat ini, ular Sancar Batik belum dilindungi undang-undang namun CITES (konvensi perdagangan hidupan liar yang terancam) memasukkannya ke dalam Apendiks II.

 

Banyaknya kebutuhan yang menggunakan Ular Sanca Batik  (Python reticulatus) ini membuat keberadaan satwa tersebut terancam kelestariannya, sehingga diperlukan langkah-langkah yang bijak dalam memanfaatkannya dan salah satu caranya adalah melalui penangkaran untuk mengurangi ketergantungan pemanfaatan satwa tersebut dari alam.

 

Untuk mewujudkan upaya penangkaran Ular Sanca Batik (Python reticulatus), diperlukan teknik yang tepat agar pengelolannya dapat berhasil dengan baik dan memenuhi harapan yakni pemanfaatan khusunya yang bersifat komersial dapat berasal dari hasil penangkaran bukan dari alam agar terwujudnya pemanfaatan secara lestari dan berkelanjutan.

 

1.2         Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai teknik-teknik penangkaran ular sanca Batik (Python reticulatus) agar dapat digunakan sebagai pengetahuan dasar atau acuan dalam menangkarkan ular sanca Batik (Python reticulatus).

 

1.3         Ruang Lingkup

Ruang lingkup penulisan ini adalah terbatas pada teknik-teknik yang diperlukan dalam penangkaran ular Sanca Batik (Python reticulatus) untuk mendukung keberhasilan kegiatan penangkaran satwa tersebut.

 

II.            TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Ciri Fisik
Ular Sanca Batik (Python reticulatus) ini mudah dikenali karena umumnya bertubuh besar, warnanya unik menyerupai batik yang berkembang dan terutama keluarga sanca (Pythonidae) relatif mudah dibedakan dari ular-ular lain dengan melihat sisik-sisik dorsalnya yang lebih dari 45 deret dan sisik-sisik ventralnya yang lebih sempit dari lebar sisi bawah tubuhnya. Di Indonesia barat, khususnya Sumatera, Kalimantan dan Semenanjung Malaya ada 5 (lima) spesies yaitu 3 (tiga) spesies bertubuh gendut pendek yakni kelompok ular Sanca Darah (Python curtus, Python brongersmai dan Python breitensteini). Sedangkan dua spesies yang lainnya bertubuh relatif panjang, pejal berotot yaitu Python molurus (Sanca Bodo) dan Python reticulatus (Sanca Batik), di mana kedua-duanya menyebar dari Asia hingga Sunda Besar, termasuk Jawa.

Python molurus memiliki pola kembangan yang berbeda dari Python reticulatus, terutama dengan adanya pola V besar berwarna gelap di atas kepalanya. Sanca kembang memiliki pola lingkaran-lingkaran besar berbentuk jala (reticula, jala), tersusun dari warna-warna hitam, kecoklatan, kuning dan putih di sepanjang sisi dorsal tubuhnya. Satu garis hitam tipis berjalan di atas kepala dari moncong hingga tengkuk, menyerupai garis tengah yang membagi dua kanan kiri kepala secara simetris dan masing-masing satu garis hitam lain yang lebih tebal berada di tiap sisi kepala, melewati mata ke belakang.

Sisik-sisik dorsal (punggung) tersusun dalam 70-80 deret, sisik-sisik ventral (perut) sebanyak 297-332 buah, dari bawah leher hingga ke anus, sisik subkaudal (sisi bawah ekor) 75-102 pasang. Perisai rostral (sisik di ujung moncong) dan empat perisai supralabial (sisik-sisik di bibir atas) terdepan memiliki lubang sensorik panas (heat sensor pits) yang dalam (Tweedie 1983).

2.2         Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan
:
Filum
:
Kelas
:
Ordo
:
Upaordo
:
Famili
:
Genus
:
Spesies
:
Python reticulatus
Python reticulatus (Schneider, 1801)

Nama daerah dari jenis ular ini bermacam-macam antara lain ular sawah, ular rawa, sanca batik dan sanca kembang.

Sanca kembang memiliki tiga subspesies. Selain P.r. reticulatus yang hidup menyebar luas, dua lagi adalah P.r. jampeanus yang menyebar terbatas di Pulau Tanah Jampea dan P.r. saputrai yang menyebar terbatas di Kepulauan Selayar dan kedua-duanya di lepas pantai selatan Sulawesi Selatan.

2.3         Biologi dan Sebarannya
Ular Sanca Batik (Python reticulatus) termasuk ular yang terbesar dan terpanjang di dunia. The Guinness Book of World Records tahun 1991 mencatat sanca kembang memiliki panjang 32 kaki 9.5 inci (sekitar 10 meter) sebagai ular yang terpanjang (Murphy and Henderson 1997), namun yang umum dijumpai adalah ular-ular yang berukuran 5-8 meter, sedangkan berat maksimal yang tercatat adalah 158 kg. Ular sanca termasuk ular yang berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun.

Ular Sanca Batik betina memiliki sepasang ovarium dan oviduk sebagai saluran reproduksinya. Pada ular sanca jantan memiliki sepasang testes, tubuli seminiferi sebagai saluran reproduksinya dan sepasang hemipenis sebagai alat kopulasinya. Sedangkan kloaka, merupakan pintu dari tiga saluran yaitu pencernaan, eksresi dan reproduksi. Musim kawin berlangsung antara bulan September hingga Maret dan proses perkawinan pada ular sanca batik dapat dilakukan dengan 3 (tiga) metode yaitu pengamatan ukuran spurs, ketebalan ekor dan dengan probing.

Berkurangnya panjang siang hari dan menurunnya suhu udara merupakan faktor pendorong yang merangsang musim kawin, namun demikian, musim ini dapat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Sanca kembang di sekitar Palembang, Sumatera Selatan, bertelur antara September-Oktober; sementara di sekitar Medan, Sumatera Utara antara bulan April-Mei (Shine et al. 1999).

Dewasa kelamin pada ular sanca pada umur antara 2-4 tahun dengan panjang tubuh pada jantan 2,0-2,5 meter pada jantan dan 3,0 meter pada betina. Ular jantan maupun betina akan berpuasa di musim kawin, bahkan ular betina akan melanjutkan puasa hingga bertelur dan sangat mungkin juga hingga telur menetas (McCurley 1999).

Perilaku gelisah dan menolak makan merupakan gambaran ular betina yang sedang berahi atau siap kawin. Adapun fase perilaku kawin pada ular antara lain yaitu fase pengejaran, fase pencarian ekor, fase penjajaran dan fase intromisi. Ular sanca bunting selama 4,5 bulan dan selama masa kebuntingan, induk ular akan mencari lokasi sarang yang cocok dan optimal untuk perkembangan telur-telurnya.
Jumlah telur Ular Sanca Batik sekali bertelur antara 10 hingga 100 butir, telur-telur ini dierami pada suhu 88-90 °F (31-32 °C) selama 80-90 hari, bahkan bisa lebih dari 100 hari. Ular sanca betina akan melingkari telur-telurnya sambil berkontraksi. Gerakan otot ini menimbulkan panas yang akan meningkatkan suhu telur beberapa derajat di atas suhu lingkungan. Ylar sanca betina akan menjaga telur-telurnya dari pemangsa hingga menetas, namun begitu menetas, bayi-bayi ular itu ditinggalkan dan nasibnya diserahkan ke alam.

Sanca kembang menyebar di hutan-hutan Asia Tenggara mulai dari Kepulauan Nikobar, Burma hingga ke Indochina, ke selatan melewati Semenanjung Malaya hingga ke Sumatera, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara (hingga Timor), Sulawesi dan ke utara hingga Filipina (Murphy and Henderson 1997).

2.4         Habitat dan Makanan
Ular Sanca Batik atau Sanca Kembang hidup di hutan-hutan tropis yang lembab (Mattison, 1999). Ular ini bergantung pada ketersediaan air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air seperti sungai, kolam, sawah dan rawa.

Ular Sanca Batik sering dijumpai masuk ke dalam rumah atau pekarangan warga karena habitat ular ini termasuk sangat felksibel. Ular Sanca Batik bisa hidup di dalam hutan hujan yang rimbun, semak belukar, padang rumput dan bahkan gorong-gorong saluran air dekat pemukiman manusia dan seringkali ditemukan dekat sumber air. Pada dasarnya Ular Sanca Batik menyukai tempat yang hangat namun memiliki tingkat kelembaban tinggi, oleh karena itu Ular Sanca Batik seringkali masuk ke rumah manusia karena banyak tempat yang disenangi.

Ular Sanca Batik (Python reticulatus)  termasuk pemakan segala yakni mulai dari tikus, kelinci, marmut, ayam, bahkan daging sapi pun bisa jadi menu makannya. Makanan Ular Sanca Batik pada ukuran normal utamanya adalah mamalia kecil seperti tikus, reptilia lainnya seperti biawak, kodok, kadal dan ikan serta jenis burung. Sedangkan ular-ular berukuran besar dilaporkan memangsa anjing, monyet, babi hutan, rusa, bahkan manusia yang ‘tersesat’ ke tempatnya menunggu mangsa (Mattison 1999, Murphy and Henderson 1997, Shine et al. 1999). Ular ini lebih senang menunggu dari pada aktif berburu, kemungkinan karena ukuran tubuhnya yang besar menghabiskan banyak energi.

Penanganan pakan di penangkaran terutama untuk Ular Sanca Batik (Python reticulatus) yang masih kecil (baby) bisa langsung diberi makan tikus mencit yang masih muda (jumper), namun jangan terlalu banyak memberikan makan ketika masih kecil (baby), sebab dikhawatirkan akan muntah. Pemberian pakan dalam intensitas sering dan kuantitas yang banyak hanya akan membuat Ular Sanca Batik (Python reticulatus) menjadi cepat besar. Pakan untuk Sanca Batik (Python reticulatus) yang besar di atas satu meter bisa diberikan rat atau marmot, sedangkan untuk Sanca Batik (Python reticulatus) yang sudah masuk ukuran 3 meter ke atas berikan pakan berupa ayam atau kelinci.

Ular Sanca Batik atau hampir semua ular, saat makan tidak dikunyah dengan gigi melainkan ditelan seutuhnya sehingga gigi di mulut ular tidak memiliki fungsi untuk mengunyah, melainkan sekedar untuk memegang mangsanya agar tidak mudah terlepas, kemudian mangsa dilumpuhkan dengan melilitnya kuat-kuat (constricting) hingga mati kehabisan nafas, beberapa tulang di lingkar dada dan pinggul dari satwa mangsa akan patah, kemudian setelah mati mangsa ditelan bulat-bulat mulai dari kepalanya.

Setelah makan, terutama setelah menelan mangsa yang besar, ular ini akan bertahan tidak makan untuk beberapa hari hingga beberapa bulan dan akan berendam diri terutama perutnya di air atau kondisi rawa hingga ia lapar kembali. Seekor sanca yang dipelihara di Regent’s Park pada tahun 1926 menolak untuk makan selama 23 bulan, namun setelah itu ia normal kembali (Murphy and Henderson 1997).

III.          TEKNIK PENANGKARAN

3.1         Karakter Ular Sanca Batik (Python reticulatus)
Ular Sanca Batik (Python reticulatus) sangat tidak dianjurkan untuk massyarakat yang baru memulai memelihara reptil dikarenakan ukuran yang besar dan panjang sehingga tidak dianjurkan untuk pemelihara pemula melainkan harus didampingi atau memiliki tenaga teknis yang telah berpengalaman karena tingkat agresifitas dan nafsu makannya cukup tinggi. Jika terdapat Ular Sanca Batik (Python reticulatus) yang jinak tentunya karena sudah melalui proses penjinakan dan interaksi yang intens dengan manusia.

3.2         Kandang
Kandang seekor Ular Sanca Batik (Python reticulatus) ukuran kecil membutuhkan tempat paling minim seukuran aquarium (40-80x30-60x20-40) centi meter atau lebih, sampai Ular Sanca Batik (Python reticulatus) mendapat tempat yang lebih besar. Dikarenakan ukuran yang besar, kandang harus dibuat dengan ukuran minimal PxLxT (90-160x80-100x60-80) centi meter, dan tidak disarankan untuk menggunakan kayu yang belum finishing dikarenakan lebih mudah cepat rusak yang berakibat fatal bagi pengelolaan penangkaran.

Temperatur yang cocok pada siang hari 85°-90° F, dengan tempat berjemur antara 90°-93° F, sedangkan temperature pada malam hari berkisar 75°-80° F.

Pemanas dan penerangan lampu ultra violet (UV) tidak diperlukan untuk
Ular Sanca Batik (Python reticulatus) karena pencahayaan sekitar 10 sampai dengan 12 jam bisa menggunakan lampu pijar biasa.

Menggunakan lampu pijar sebagai pemanas atau keramik penghantar panas dapat juga di pakai sebagai penghangat, sedangkan pemanas dari batu santa tidak di anjurkan karena bisa overheat dan membuat ular terluka.

Alas untuk Indoor atau Outdoor dianjurkan menggunakan carpet model Atroturf TM karena mudah dibersihkan dan anti bakteri, selain itu yang paling mudah adalah Koran. Sedangkan mengunakan alas yang mgandung Cedar sangat tidak dianjurkan karena Cedar mengandung racun yang bisa membunuh ular.
Ular Sanca Batik (Python reticulatus) yang habitat aslinya adalah di hutan hujan tropis, sehingga memerlukan kelembaban yang sesuai. Jika terlalu lembab dapat menimbulkan tumbuhnya bakteri maupun jamur demikian halnya apabila terlalu rendah kelembabannya menyebabkan terjadinya masalah dalam pergantian kulit. Di dalam kandang juga bisa disediakan air untuk menjaga kelembaban, tetapi harus diperhatikan bila pada malam hari harus di keluarkan dari kandang karena akan meningkatkan kelembaban.

Kebersihan kandang harus menjadi perhatian khusus, karena kebersihan kandang akan mendukung keberhasilan penangkaran itu sendiri maupun kesehatan lingkungan sekitar dan menghindari protes (claim) masyarakat setempat. Kandang harus dibersihkan setiap hari, apa bila menggunakan indoor/outdoor carpet sangat disarankan mempunyai dua untuk dipakai bergantian, pastikan telah mencuci dan mengeringkan carpet sebelum di pakai lagi. Air yang di dalam kandang harus diganti setip hari guna menghindari bakteri yang mungkin masuk bersama kotoran ular, serta selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang ular.

3.3         Contoh Desain Kandang
Seperti penjelasan sebelumnya di atas bahwa kandang seekor Ular Sanca Batik (Python reticulatus) ukuran kecil (baby) dan sedang (medium) membutuhkan tempat paling minim dengan ukuran PxLxT (40-80x30-60x20-40) centi meter atau lebih, sampai Ular Sanca Batik (Python reticulatus) mendapat tempat yang lebih besar. Dikarenakan ukuran ular akan semakin bertambah besar, kandang harus dibuat dengan ukuran minimal untuk 1 (satu) pasang dewasa yaitu 1 (satu) ekor jantan dan 1 (satu) ekor betina atau juga dibuat untuk 1 (satu) ekor jantan dan 2 (dua) ekor betina dengan ukuran PxLxT (90-200x80-120x60-100) centi meter dan berikut adalah beberapa contoh desain kandang untuk Ular Sanca Batik (Python reticulatus) sebagaimana pada gambar 1, 2 dan 3.

Gambar 1. : Contoh Desain Kandang

Gambar 1. Contoh Desain Kandang

Gambar 2. Contoh Desain dan Ukuran Kandang























Gambar 3. Contoh desain dan model kandang
3.4         Analisis Biaya
Biaya produksi yang diperlukan untuk usaha penangkaran Ular Sanca Batik (Python reticulatus) meliputi antara lain sewa lahan atau bangunan rumah, pembelian atau pembuatan kotak/box atau kandang, pembelian indukan, biaya pakan, dan sebagainya sebagaimana tersaji pada tabel 1.

Tabel 1. Analisis Biaya
No.
Jenis Kegiatan
Banyaknya
Biaya (Rp)
Pengeluaran
Penerimaan
Satuan
Jumlah
Satuan
 Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
A.
Biaya Produksi 
1
Bangunan Rumah Kandang
1
Unit
(100
m2)

    6,000,000


2
Pembelian / pembuatan
kotak kandang
16
unit
  100,000
    1,600,000


3
Pembelian bibit / indukan
40
ekor
    50,000
    2,000,000


4
Pembelian alat kebersihan
dan obat-obatan
4
paket
  250,000
    1,000,000


5
Biaya pakan
40
ekor
    10,000
       400,000


B.
Pemanenan
1
Perkiraan hasil anakan
dari setiap induk
20
ekor


             -
                  -
2
Jumlah anakan yang
dihasilkan dari 32 ekor
indukan betina
640
ekor


  100,000
  64,000,000









Jumlah :



  11,000,000

    64,000,000

Selisih
(Keuntungan) :
53,000,000














3.5         Peluang Pasar
Banyaknya industri kerajinan yang berbahan baku kulit dan salah satunya adalah kulit Ular Sanca Batik (Python reticulatus) untuk kerajinan tas, dompet, ikat pinggang dan cinderamata atau pun untuk koleksi dan atraksi / peragaan dalam berbagai acara atau peristiwa (event) baik di tingkat nasional maupun internasional, maka peluang pasar untuk Ular Sanca Batik (Python reticulatus) sangat besar dan menjanjikan. Selain permintaan pasar dalam bentuk kulit, Ular Sanca Batik (Python reticulatus) seringkali diekspor dalam bentuk hidup (pet) yang dilakukan oleh pelaku usaha atau perusahaan eksportir tumbuhan dan satwa liar termasuk dalam hal ini satwa liar jenis Ular Sanca Batik (Python reticulatus).

IV.          KESIMPULAN DAN SARAN

4.1         Kesimpulan

Banyaknya kebutuhan industri kerajinan yang berbahan baku dari kulit Ular Sanca Batik  (Python reticulatus), membuat keberadaan satwa tersebut terancam kelestariannya, sehingga diperlukan langkah-langkah yang bijak dalam memanfaatkannya dan salah satu caranya adalah melalui penangkaran untuk mengurangi ketergantungan pemanfaatan satwa tersebut dari alam.

 

Untuk mewujudkan upaya penangkaran Ular Sanca Batik (Python reticulatus), diperlukan ketersediaan panduan informasi dan pengetahuan tentang teknik penangkaran yang tepat agar pengelolannya dapat berhasil dengan baik dan memenuhi harapan yakni pemanfaatan khusunya yang bersifat komersial dapat berasal dari hasil penangkaran bukan dari alam agar terwujudnya pemanfaatan secara lestari dan berkelanjutan.

4.2         Saran
Pemerintah dalam hal ini kementerian kehutanan khususnya balai besar/balai konservasi sumber daya alam perlu melakukan upaya untuk menyediakan informasi yang lebih banyak dan terbaru tentang konservasi keanekaragaman hayati secara umum khususnya satwa liar yang mudah untuk ditangkarkan guna memenuhi kebutuhan pengetahuan konservasi bagi masyarakat sehingga masyarakat yang memiliki kemauan untuk berperan serta dalam kegiatan konservasi tidak memiliki keraguan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Cara Beternak Ular Sanca Kembang. http://yusufsila.binatang.blogspot.com/... Deikases tanggal 3 Maret 2012.
Anonim. 2012. Upaya Penangkaran Ular Sanca Batik. http://www.google.co.id/search?=in&gl=id&client=ms-android-samsung&source=android-louncher-widget&action=devloc&q Diakses tanggal 3 Maret 2012.
Mertanus. 2012. Perawatan Ular Peliharaan. Mertanus.wordpress.com/... Diakses tanggal 4 Maret 2012.
Anonim. 2012. Ular Sanca Kembang. http://id.m.wikipedia.org/wiki/ular-wikipedia bahasa Indonesia, insiklopedia bebas. Diakses tanggal 4 Maret 2012.

STUDY BANDING PENANGKARAN RUSA



 Latar Belakang
Rusa di Indonesia secara umum ada 3 (tiga) jenis yaitu Rusa Sambar (Cervus unicolor), Rusa Timor (Cervus timorensis) dan Rusa Bawean (Axis kuhlii). Namun demikian ada satu jenis lain yang juga rusa asli Indonesia yaitu Kijang (Muntiacus muntjak). Dari dari semua jenis itu semuanya merupakan satwa liar yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah  Nomor : 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.  Penetapan Rusa sebagai satwa liar yang dilindungi didasari oleh beberapa hal antara lain populasi rusa di alam semakin menurun akibat perburuan dan perdagangan liar, rusaknya habitat rusa di alam akibat perladangan, pembalakan liar (ilegal logging), kebakaran hutan, penyerobotan lahan kawasan hutan.

Dilindunginya satwa jenis rusa ini dimaksudkan agar satwa tersebut tetap terjaga kelestariannya untuk pemanfaatan yang berkelanjutan dan salah satu upaya untuk mewujudkan kelestariannya adalah melalui penangkaran.  Penangkaran adalah upaya perbanyakan melalui pengembangbiakan dan pembesaran tumbuhan dan satwa liar dengan tetap mempertahankan kemurnia jenisnya dengan tujuan penangkaran itu sendiri adalah untuk mendapatkan spesimen tumbuhan dan satwa liar dalam jumlah, mutu, kemurnian jenis dan keanekaragaman genetik yang terjamin, untuk kepentingan pemanfaatan sehingga mengurangi tekanan langsung terhadap populasi di alam serta mendapatkan kepastian secara administratif maupun secara fisik bahwa pemanfaatan spesimen tumbuhan atau satwa liar yang dinyatakan berasal dari kegiatan penangkaran adalah benar-benar dari kegiatan penangkaran.

Berawal dari beberapa amanat peraturan perundang-undangan tersebut di atas maka Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dalam hal ini UPTD Tahura Wan Abdul Rahman berkolaborasi dengan beberapa instansi terkait (Balai KSDA Lampung dan Universitas Lampung/UNILA) berusaha untuk melakukan penangkaran Rusa di lokasi Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman, Bandar Lampung.

Untuk mewujudkan rencana penangkaran Rusa di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman, perlu ada persiapan-persiapan baik teknis maupun non teknis sehingga pada saat pelaksanaannya nanti bisa mendapatkan hasil yang maksimal sesuai tujuan penangkaran, dan selanjutnya dari tujuan penangkaran tersebut akan mendukung tujuan konservasi yaitu mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Salah satu persiapan yang dilakukan dalam rangka kegiatan penangkaran Rusa di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman adalah melakukan studi banding ke beberapa tempat penangkaran Rusa antara lain Wana Wisata Taman Pendidikan Rusa Cariu, Taman Safari Indonesia Cisarua, Istana Bogor dan Kebun Binatang Ragunan untuk mendapatkan pengetahuan, informasi dan pengalaman dalam penangkaran Rusa sehingga menjadi bahan perbandingan untuk pengelolaan penangkaran Rusa yang lebih baik.

Maksud Dan Tujuan
Maksud dan tujuan pelaksanaan kegiatan study banding adalah untuk mendapatkan pengetahuan, informasi dan pengalaman dalam hal penangkaran Rusa yang meliputi antara lain model/desain kandang, perawatan kesehatan satwa, tenaga kerja /penjaga satwa (animal keeper), jenis pakan utama, pakan tambahan, mium, peralatan yang perlu dipersiapkan untuk penyimpanan pakan dan mium, keamanan satwa dan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat sekitar.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan selama 5 (lima) hari yaitu dari tanggal 30 Juli 2012 sampai dengan 3 Agustus 2012, bertempat di Jawa Barat (Wana Wisata Taman Pendidikan Rusa Cariu, Taman Safari Indonesia Cisarua, Istana Bogor) dan Jakarta (Kebun Binatang Ragunan).
 
Petugas Pelaksana

Pelaksana kegiatan study banding yaitu :
1.       Jamal M. Nasir, SE, MM /NIP. 19691117 199003 1 006
2.       Ronald HP. Panjaitan, S. Hut / NIP. 19720626 199903 1 007
3.       Sahriyo Tantalo YS, MP / NIP. 19610606 198603 1 004
4.       Eni Marita / NIP. 19610308 198103 2 003
5.       Saturnino Xavier / NIP. 19780817 200012 1 001


HASIL PELAKSANAAN

Tinjauan Lokasi Penangkaran di Wana Wisata Taman Pendidikan Rusa Cariu

Sejarah Singkat
Secara singkat, penangkaran Rusa di Cariu tepatnya di Desa Buana Jaya, Kecamatan Pasir Tanjung, Kabupaten Bogor adalah milik Perum Perhutani III Jawa Barat. Pengelolaannya dimulai sejak tahun 1992 dan dibuka untuk masyarakat umum adalah pada tahun 2000 untuk memenuhi beberapa kebutuhan masyarakat antara lain untuk wisata, pendidikan, penelitian sedangkan pengelolaan untuk tujuan komersial dimulai pada tahun 1995 sampai dengan sekarang.

Jumlah Rusa
Jumlah Rusa di tahun 1992 adalah 110 ekor (Agus Supriyanto, pengelola / perawat), sedangkan pada tahun 2004 jumlahnya hanya tinggal 71 ekor dengan perinciannya adalah 45 ekor Rusa Timor (Cervus timorensis) terdiri dari 20 ekor betina dan 25 ekor jantan, 16 ekor Rusa Bawean (Axis kuhlii) terdiri dari 15 ekor jantan dan 1 ekor betina serta 10 ekor Rusa Totol (Axis axis) terdiri dari 3 ekor betina dan 7 ekor jantan. Sedangkan jumlah rusa keseluruhan saat ini adalah 66 ekor dengan rincian 36 ekor Rusa Timor (Cervus timorensis) terdiri dari 18 ekor betina dan 18 ekor jantan, 22 ekor Rusa Bawean (Axis kuhlii) terdiri dari 16 ekor jantan dan 6 ekor betina serta 8 ekor Rusa Totol (Axis axis) terdiri dari 7 ekor jantan dan 1 ekor jantan. Dari jumlah tersebut, untuk saat ini belum terjadi over populasi sehingga jika ada permintaan masyarakat untuk membeli, hibah atau tukar menukar tidak bisa dipenuhi dan permintaan baru akan dipenuhi jika jumlah rusa tersebut mencapai di atas 71 ekor.

Pengelolaan
Dari ketiga jenis rusa tersebut semuanya dikelola dalam satu areal / lahan seluas 5 ha terdiri dari 2 ha untuk kebun pakan yang ditanami rumput makanan kesukaan rusa, sisanya 3 ha adalah areal pemeliharaan / jelajah rusa yang dicampur jadi satu. Lahan seluas 5 ha itu dipagar keliling dengan kawat setinggi 2,5 m sedangkan di dalam areal 3 ha dibangun 6 (enam) unit kandang isolasi / jepit yang berfungsi untuk pemisahan jenis dan umur saat memasuki musim kawin. Teknisnya kandang isolasi / jepit tersebut pada musim kwain tiba, akan diisi rusa dengan umur siap kawin. Satu kandang dengan kandang yang lainnya dibuatkan pintu kontrol yang berfungsi untuk mengatur / buka tutup antara rusa jantan dengan betina saat akan melakukan aktivitas kawin. Kandang tersebut akan terus dihuni oleh rusa betina yang telah bunting sampai dengan melahirkan dan pembesaran anak hingga mencapai umur sapih atau anak rusa telah siap untuk beradaptasi dengan lingkungan / survive. Selain itu kandang isolasi tersebut juga akan memudahkan petugas untuk mengontrol, merawat, mengawasi dan mengobati.

Perawatan
Dari ketiga jenis rusa yang ada di penangkaran Cariu, jenis rusa yang cepat berkembangbiak adalah jenis Rusa Totol (Axis axis), kemudian  Rusa Timor (Cervus timorensis) sedangkan untuk jenis Rusa Bawean (Axis kuhlii) lebih sulit untuk berkembangbiak  sehingga untuk jenis Rusa Bawean (Axis kuhlii) sampai dengan saat ini belum bisa dikomersialkan.

Pada prinsipnya rusa ini jika dikelola dengan baik, makan minum selalu tersedia dan mencukupi, maka perkembangannya akan cepat berhasil. Tenaga pengelola penangkaran Rusa di Cariu sudah mempunyai cara-cara tersendiri untuk memberi makan kepada satwa agar tetap sehat dan cepat berkembang termasuk cara untuk meningkatkan / mempercepat kesuburan reproduksi rusa betina. Meskipun tenaga kerja yang sebenarnya adalah 3 (tiga) orang tetapi yang khusus untuk menangani rusa (satwa) hanya 1 orang yaitu bapak Agus Supriyanto sedangkan 2 (dua) orang lainnya hanya menangani hal-hal yang terkait dengan wisata termasuk keamanan. Konsep keamanan yang dibuat oleh pengelola penangkaran rusa Cariu adalah dengan melibatkan masyarakat sekitar dalam merasakan manfaat dari keberadaan penangkaran tersebut dalam hal penyediaan pakan yaitu masyarakat diberi kesempatan untuk menjual rumput, ubi jalar, dedak, kacang-kacangan kepada pihak pengelola sehinga masyarakat setempat turut merasa memiliki terhadap penangkaran tersebut dan ada harapan terjadinya kerjasama yang saling menguntungkan termasuk menjaga keamanan di lokasi penangkaran.

Jadwal makan rusa adalah 2 (dua) kali sehari yaitu pagi dan sore dengan menu utamanya adalah rumput sedangkan menu tambahan sekaligus sebagai rangsangan untuk menyuburkan reproduksi rusa betina adalah berupa kacang-kacangan, ubi jalar dan dedak yang diberikan 2 (dua) hari sekali. Sehabis makan, rusa-rusa ini tidak perlu khawatir untuk mencari minum karena di dalam kandang sudah disediakan bak penampungan air minum berupa bak semen segi empat yang dibuat di beberapa tempat sesuai kebutuhan. Model penangkaran Rusa di Cariu adalah dengan sistem penggembalaan semi alami yaitu rusa dilepas secara bebas di areal rumput seluas 3 ha namun tetap diberi makan secara teratur. Sistem ini akan menghemat dari sisi tenaga kerja juga penyediaan pakan serta daya tari wisatanya cukup bagus tetapi kelemahannya rusa akan sulit untuk menentukan keberhasilan berdasarkan target juga sulit dikontrol secara menyeluruh terkait keturunan-keturunannya.

Manajemen Administrasi Satwa
Perkembangan rusa di penangkaran Cariu selalu perhatikan dan dilaporkan secara tertulis setiap bulan kepada unit manajemen Perum Perhutani di Bandung. Peristiwa-peristiwa yang dilaporkan antara lain kondisi kesehatan rusa, penambahan (lahir) pengurangan (mati), penjualan dan sebagainya.

Setiap rusa yang lahir sudah diupayakan adanya penandaan / tagging tetapi penandaan belum seluruhnya dilakukan dikarenakan kesulitan untuk membedakan secara jelas dari rusa-rusa yang ada (kelemahan sistem penangkaran semi alami). Begitupun halnya jika ada rusa yang akan dijual selalu diliput dengan berita acara dari petugas Balai KSDA setempat kemudian diterbitkan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS DN).

Tinjauan Lokasi Penangkaran di Taman Safari Indonesia, Cisarua

Model Kandang
Kandang penangkaran rusa di TSI adalah berupa lahan terbuka yang dipagar keliling dengan kawat beraliran listrik tegangan rendah berfungsi untuk menghalau / membatasi ruang jelajah rusa sehingga rusa tersebut tidak keluar dari areal atau kandangnya. Umumnya rusa di TSI hanya digunakan sebagai satwa koleksi untuk tujuan wisata, pendidikan dan penelitian sehingga tidak ada kandang isolasi untuk pemisahan/pengelompokan.

Pengelolaan dan Perawatan
Jenis rusa yang ada di TSI adalah Rusa Sambar (Cervus unicolor), Rusa Timor (Cervus timorensis), Rusa Bawean (Axis kuhlii) dan Rusa Totol (Axis axis). Kandang dari ketiga jenis rusa tersebut letaknya terpisah satu dengan yang lainnya dan ada perawat khusus yang mengurus di setiap kandangnya mulai dari memberi makan berupa rumput aritan, rumput king gress, ubi jalar, pisang, wortel. Sedangkan minum rusa sudah disediakan di masing-masing kandang rusa bahkan untuk rusa sambar disediakan kolam untuk berkubang karena rusa sambar sebagian besar aktivitasnya banyak di air. Kesehatan rusa selalu dipantau setiap harinya oleh pengelola jika ada tanda-tanda sakit pada rusa, tim medis / dokter hewan yang ada langsung menangani secara serius.

Manajemen Administrasi Satwa
Perkembangan rusa di TSI baik itu bertambah (melahirkan) maupun berkurang (mati) selau dilaporan secara tertulis kepada pihak manajemen setiap bulannya oleh petugas pengelola. Laporan tersebut sekaligus menjadi data untuk pelaporan pihak TSI ke kementerian kehutanan terkait satwa koleksi yang ada di TSI. Penandaan / tagging terhadap satwa rusa yang dipersyaratakan oleh peraturan perundang-undangan tentang penangkaran, sampai dengan saat ini belum dilakukan oleh pihak pengelola dengan alasan dari pihak pengelolan bahwa satwa yang ada di TSI umumnya hanya untuk koleksi tidak untuk diperdagangkan.

Tinjauan Lokasi Penangkaran di Istana Bogor

Model Kandang
Penangkaran rusa di Istana Bogor berupa taman yang dipagar keliling setinggi 2,7-3 m menyatu dengan komplek istana kepersidenan. Di dalamnya terdapat kandang jepit / isolasi untuk menggiring satwa saat akan dilakukan penangkapan untuk memenuhi kebutuhan hibah atau pun untuk tujuan kontrol kesehatan satwa itu sendiri.

Pengelolaan dan Perawatan
Jenis rusa yang ada di Istana Bogor adalah jenis Rusa Totol (Axis axis) di mana pengelolaannya bersifat penggembalaan semi alami yang dilepas liar di luasan lahan yang ada di komplek istana sehingga rusa-rusa tersebut terlihat begitu liar meskipun terlihat jinak ketika petugas pemberi makan mendekati. Makan rusa di Istana secara umum berupa rumput taman yang ditanam dan diatur penggembalaannya (sistem rotasi). Selain rumput yang ada di taman, makanan tambahan yang diberikan petugas setiap hari adalah ubi jalar, wortel, dedak dan makanan khusus berupa tepung.

Manajemen Administrasi Satwa
Perkembangan rusa di Istana Bogor selau dilaporan secara tertulis kepada pihak istana setiap bulannya oleh petugas pengelola. Pelaporan antara lain meliputi penambahan / lahir maupun pengurangan terdiri dari rusa yang mati dan yang dihibahkan ke pihak lain. Penandaan / tagging terhadap satwa rusa yang dipersyaratakan oleh peraturan perundang-undangan tentang penangkaran, sampai saat ini belum maksimal dilakukan oleh pihak pengelola.

Tinjauan Lokasi Penangkaran di Taman Marga Satwa Ragunan

Model Kandang
Model kandang penangkaran rusa di taman marga satwa Ragunan adalah berupa kandang terkontrol yang dibuat untuk masing-masing jenis/spesies. Satwa di taman marga satwa Ragunan terdiri dari 4 (empat) jenis yaitu Rusa Sambar (Cervus unicolor), Rusa Timor (Cervus timorensis), Rusa Bawean (Axis kuhlii) dan Rusa Totol (Axis axis). Dari keempat jenis rusa ini semuanya berada di kandang terkontrol yang dibuat dari pagar besi (anyaman / ram besi) cukup kokh setinggi 2,7 m, terdapat tanaman / pohon peneduh bagi rusa di dalam, tersedia bak untuk minum dan tempat makan rusa.

Pengelolaan dan Perawatan
Pengelolaan dan perawatan rusa di taman marga satwa Ragunan cukup bagus yakni terdapat 2 (dua) orang keeper setiap kandang serta dibantu oleh beberapa orang tenaga kurator khusus untuk menangani kesehatan satwa berdasarkan petunjuk / saran dokter hewan. Pola makan rusa di taman marga satwa Ragunan adalah 2 (dua) kali satu hari diberi makan berupa rumput sedangkan makanan tambahn berupa dedak, pelet (galagzoo), daun, ubi, pisang disuplai setiap 1 (satu) minggu sekali.

Dari pengelolaan ini rusa telah berhasil berkembangbiak dan saat ini sudah mengalami over populasi sehingga pihak pengelola bersedia untuk menghibahkan ke pihak penangkar lain jika ada permintaan yang sesuai prosedur. Pihak pengelola menyampaikan informasi bahwa jika ada penangkar lain yang menginginkan indukkan rusa dari taman marga satwa Ragunan dipersilahkan mengajukan permohonan ke Pemda Provinsi DKI Jakarta untuk mendapatkan persetujuan dari Gubernur. Setelah mendapatkan persetujuan dari Gubernur, secara teknis pembindahan akan diserahkan kepada UPTD taman marga satwa Ragunan untuk dikoordinasikan dengan instansi terkait termasuk dalam hal ini Balai KSDA DKI Jakarta dan Balai KSDA tempat tujuan. Selanjutnya petugas teknis dari UPTD taman marga satwa Ragunan akan melakukan survei /pengecekan langsung ke lokasi calon penangkaran tentang kesiapannya sebelum dilakukan pemindahan / translokasi dan jika memenuhi syarat, pemindahan / translokasi akan segera dilakukan setelah mendapatkan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS DN).

Manajemen Administrasi Satwa
Perkembangan rusa di taman marga satwa Ragunan selau dilaporan secara berkala kepada Balai KSDA DKI Jakarta setiap bulannya oleh petugas pengelola. Pelaporan antara lain meliputi penambahan / lahir maupun pengurangan terdiri dari rusa yang mati dan yang dihibahkan ke pihak lain. Penandaan / tagging terhadap satwa rusa yang dipersyaratakan oleh peraturan perundang-undangan tentang penangkaran, sampai saat ini belum maksimal dilakukan oleh pihak pengelola

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Dari hasil kunjungan tim studi banding penangkaran rusa di 4 (empat) lokasi penangkaran di Cariu, Taman Safari Indonesia, Istana Bogor dan Taman Marga Satwa Ragunan dapat disimpulkan bahwa pengelolaan rusa penangkaran dapat berbentuk semi alami (ranching) yakni satwa dilepas pada habitat / kandang yang dibangun menyerupai alam (semi alami) dengan makan utamanya terpenuhi dari rumput yang ada di dalam kandang sehingga perawatan rumput di dalam kandang menjadi hal yang penting. Selain itu ada makan tambahan yang diberikan secara teratur sesuai kebutuhan. Sedangkan penangkaran dalam bentuk kandang terkontrol (Captive breeding) pakan rusa akan disuplai setiap hari dengan jadwal makan pagi sore dan rumput yang ada dalam kandang hanya sebagai tambahan.

Dari sistem pengelolaan ini masing-masing memiliki kelebeihan dan kekurangan antara lain jika dengan sistem semi alami, perawatan rumput dalam kandang harus menjadi perhatian utama dengan pola rotasi tempat penggembalaan / buka tutup kandang untuk peremajaan rumput dan tidak terlalu banyak membutuhkan tenaga kerja, rusa akan lambat atau sulit menyesuaikan dengan lingkungan baru (liar) . Sedangkan dalam bentuk kandang terkontrol, suplai makanan menjadi hal yang utama dan membutuhkan banyak tenaga kerja, rusa akan mudah menyesuaikan dengan lingkungan baru (jinak).

Umumnya rusa akan cepat berkembangbiak jika tidak terjadi kekurangan pakan / pakan tersedia setiap saat sesuai kebutuhan.

Saran

Dari hasil kunjungan ini tim studi banding penangkaran rusa menyarankan agar di dalam membuat suatu penangkaran rusa harus memperhatikan hal-hal teknis mau pun non teknis sebagai berikut :
1.       Tersedia lahan yang cukup, kandang dipagar keliling dengan bahan yang kuat dan kokoh serta tinggi minimal 2,7 m (sebaiknya fondasi batu dan pagar permanen berupa besi / kawat ram / anyaman).
2.       Tersedia tenaga kerja, tenaga medis, tenaga teknis yang berpengalaman di bidang konservasi yang sesuai dan mencukupi serta memiliki kecintaan akan satwa.
3.       Tersedia pakan dan minum yang sesuai dan pola makan yang teratur sesuai kebutuhan.

Bandar Lampung,    Agustus 2012
Jembatan layang menuju lokasi penangkaran Cariu
Bahan dan alat Tagging pada rusa di Cariu
Populasi Rusa di Cariu
Produk dari Rusa berupa tanduk (ranggah) rusa jantan

Saat di shelter dalam kandang penangkaran Rusa di Cariu
Kunjungan di TSI
Populasi rusa di TSI
   
Kunjungan di Istana Bogor
Populasi Rusa Tutul di Istana Bogor

Populasi Rusa Tutul di Istana Bogor

Pakan Rusa di Istana Bogor

Rabu, 29 Agustus 2012

PENYELAMATAN TUKIK YANG TERDAMPAR

BANDARLAMPUNG – Terdamparnya ratusan tukik (anak penyu) sisik (eretmochelys imbricata) di Pantai Teluk Harapan, Panjang Selatan, Bandarlampung, sejak Kamis (26/5) lalu langsung menuai perhatian dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung.
Sayang, BKSDA belum bisa berbuat banyak karena keterbatasan anggaran. Satuan kerja tersebut mengakui action yang bisa dilakukan saat ini hanya dengan meminta masyarakat untuk lebih peduli atas penyelamatan satwa langka yang dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Ekosistem Sumber Daya Alam Hayati itu.
Kepala BKSDA Lampung Supriyanto mengatakan, langkah pertama sebagai upaya penyelamatan satwa tersebut adalah berkoordinasi dengan Kelompok Nelayan Bahari Mandiri Teluk Harapan dan LSM Mitra Bentala.
’’Kami belum berani mendanai penangkaran satwa langka itu. Tetapi, kami sudah koordinasikan untuk mengupayakan perlindungan sementaranya,” terang dia kemarin (27/5).
    Supriyanto juga menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja keras kelompok nelayan, termasuk Mitra Bentala, yang memiliki komitmen tinggi dalam penyelamatan jenis penyu yang terancam punah itu.
’’Sekali lagi terima kasih atas kepedulian dan informasi yang diberikan. Kami berupaya keras, walaupun kondisi BKSDA sulit untuk mem-back up sepenuhnya,” ujar dia.
Saat ini BKSDA hanya bisa berharap Pemprov Lampung, khususnya Dinas Kelautan dan Perikanan, merespons cepat masalah ini. Begitu pula dengan Pemkot Bandarlampung, agar tidak hanya duduk manis melihat kondisi ini.
Dengan adanya sharing pengelolaan dan penyelamatan satwa langka ini, ke depan bermanfaat bagi pengembangan daerah itu sendiri. BKSDA berjanji secepatnya mengajukan anggaran ke pemerintah pusat sebagai upaya penyelamatan. Jika upaya ini direspons, paling tidak pada 2012 kawasan itu bisa dibangun tempat penangkaran yang bisa membantu mencegah kepunahan.      
’’Realisasinya mudah-mudahan pada 2012. Sekarang ini BKSDA berharap kondisi itu jangan sampai dibiarkan. Toh jika dikelola dengan baik, ini akan menjadi sumber potensi, pengelolaan ekowisata yang hasilnya bisa masuk pendapatan asli daerah seperti di Bali,” beber Supriyanto.
    Ditambahkannya, penyu sisik termasuk dalam famili cheloniidae. Hewan ini adalah satu-satunya spesies dalam genusnya. Spesies ini memiliki distribusi di seluruh dunia, dengan dua subspesies di Atlantik dan Pasifik. Eretmochelys imbricata adalah subspesies di Atlantik. Sedangkan eretmochelys bissa imbricata adalah subspesies di wilayah Indo-Pasifik.
’’Lampung harus bangga bahwa kawasan baharinya merupakan salah satu kawasan yang paling pas untuk pengembangan dan perlindungan penyu sisik,” kata dia.
Diketahui, ratusan ekor anak penyu sisik terdampar di Pantai Teluk Harapan. Sayang, hanya 25 ekor tukik yang mampu diselamatkan dan ditangkar pada tempat penangkaran sementara di Kelompok Nelayan Bahari Mandiri Teluk Harapan di Jalan Selat Malaka 3 No. 52, Panjang Selatan.
Buyung Ridwan, community organizer LSM Mitra Bentala untuk wilayah Panjang, mengatakan, ratusan ekor anak penyu sisik tersebut terbawa arus angin barat serta tumpukan sampah dari laut Teluk Lampung sehingga terdampar di kawasan eks lokalisasi itu.
’’Sebenarnya sudah terdampar sejak pekan lalu. Tetapi banyak dari tukik itu yang mati terkena limbah atau ditangkap kemudian dijual, sehingga sedikit yang berhasil diselamatkan,’’ jelas Buyung.
Ketua Kelompok Nelayan Bahari Mandiri Teluk Harapan Herman Nasir menambahkan, setiap tahun, terlebih di bulan Juni sampai Agustus, ratusan ekor anak penyu sisik terhanyut ke pantai tersebut. ’’Mereka terbawa arus. Mungkin asalnya dari sekitar Pulau Legundi, Pulau Tegal, atau pulau lainnya,” kata dia. (ful/c1/fik)

SUNGGUH UNIK TELAH DITEMUKAN "KELUARGA BARU AMFIBI TANPA KAKI"


Peneliti yang sedang menggali lumpur di timur laut India telah menemukan satu keluarga baru amfibi tanpa kaki. Penemuan ilmiah yang ditulis dalam laporan mendetil Rabu (22/2) termasuk sangat jarang terjadi.

Mahluk tanpa buntut penggali tanah ini ditemukan oleh sekelompok ilmuwan yang sudah bekerja selama lima tahun di desa-desa terpencil negara bagian India, termasuk Sikkim, Arunachal Pradesh, dan Nagaland.

"Analisis DNA sudah membuktikan bahwa mahluk ini adalah keluarga baru," kata SD Biju, profesor di University of Delhi yang memimpin anggota tim dari Inggris dan Belgia, kepada AFP.

"Kerusakan habitat adalah masalah besar untuk amfibi di seluruh dunia, dan temuan seperti ini membuktikan bahwa kita harus melindungi lingkungan untuk menyelamatkan kehidupan yang belum kita ketahui," kata dia.

Menurut Biju, pencarian mahluk mirip cacing ini sangat menantang. Ia dan timnya harus menggali dengan sekop di 250 lokasi berbeda.
Mahluk bernama Chikilidae ini berukuran panjang 20 cm dan kadang menggali sampai 25 cm ke dalam tanah.

Chikilidae, berasal dari bahasa lokal suku Garo, adalah yang ke-10 ditemukan dari grup amfibi caecilian.

"Penemuan ini membuktikan bahwa kawasan timur laut India sangat kaya dari sisi satwa dan ekosistem," kata Biju. "Kita harus belajar lebih banyak tentang kawasan ini."

Laporan penelitian temuan juga menyebut salah satu ancaman akan amfibi tanpa kaki yang tak berbahaya ini adalah penduduk lokal melihat mereka sebagai ular berbahaya. Temuan ini sudah diterbitkan di jurnal penelitian Proceedings B dari Royal Society of London.(Isy)

PEMBINAAN KEPADA PEDAGANG / PENGUMPUL DAN PENANGKAR TSL DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2011 DI TAMAN WISATA LEMBAH HIJAU


Balai KSDA Lampung mempunyai kewajiban untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat yang memanfaatkan tumbuhan dan satwa liar di Provinsi Lampung. Kewajiban ini dilakukan setiap tahunnya dengan harapan agar pelaku usaha yang memanfaatkan TSL tidak menyalahi peraturan yang berlaku di bidang konservasi. Hal ini sesuai amanat dalam Peraturan Pemerintah No. 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar, Peraturan Menteri Kehutanan No. P.19/Menhut-II/2005 tentang Penangkaran Tumbuhan dan Satwa Liar, Keputusan Menteri Kehutanan No. 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar serta Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam No. SK.09/IV/Set-3/2008 tentang Pedoman Penangkaran / Transplantasi Karang Hias Yang Diperdagangkan.
Pelaksanaan kegiatan pembinaan tahun ini dilakukan di taman satwa Lembah Hijau yang juga merupakan salah satu peserta dalam pembinaan tersebut karena terdaftar sebagai penangkar dan mempunyai taman satwa yang telah memiliki ijin dari Menteri Kehutanan RI sebagai Lembaga Konservasi.
Kegiatan pembinaan yang dilakukan pada tanggal 15 Maret tahun 2011 ini secara resmi dibuka oleh kepala Balai KSDA Lampung bapak Ir. Supriyanto dan dalam sambutannya beliau menyampaikan beberapa hal yang menjadi maksud dan tujuan dari pelaksanaan kegiatan ini yaitu antara lain :
1.  Meningkatkan sikap dan kepribadian yang disiplin para Pedagang, Pengumpul, dan Penangkar Tumbuhan dan Satwa Liar yang taat terhadap peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sehingga dapat menunjang keberhasilan dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-hari.
2.     Meningkatkan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, pemahaman, dan penghayatan mengenai prinsip-prinsip konservasi terhadap tumbuhan dan satwa liar sehingga  akan menunjang keberhasilan pekerjaan sehari-hari.
3. Meningkatkan kesadaran peserta di bidang konservsi satwa liar dalam rangka mewujudkan peran serta, tanggung jawab dan perhatian yang lebih besar terhadap kegiatan-kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
4.  Mampu membawa perubahan terhadap tingkah laku, sikap dan cara berpikir ke arah yang lebih positif mengenai kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga mau berperan aktif di dalamnya.
Sedangkan materi yang disampaikan pada kesempatan itu berturut-turut adalah Kebijakan di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya oleh Bapak Balai KSDA Lampung Ir. Supriyanto, Tata Usaha Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar oleh bapak Joko Susilo, A. Md staf Balai KSDA Lampung, Persyaratan menjadi pengumpul / pengedar, penangkar dan Lembaga Konservasi oleh ibu Rikha Aryanie Surya, S. Hut, MP fungsional PEH Balai KSDA Lampung, Tata Cara Penyusunan Laporan Dari Pedagang / Pengumpul, Penangkar TSL dan Lembaga Konservasi oleh bapak Wibisono, BBA staf Balai KSDA Lampung, Pengenalan Biota Laut Jenis Koral / Karang Hias di Provinsi Lampung oleh ibu Endang L. Widyastuti, P. hD dosen Universitas Lampung dan Menjaga Kesehatan Satwa dan Mencegah Terjadinya Penularan Virus Kepada Petugas Dalam Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) oleh bapak drh. K. Sudaryatmo Kepala Puskeswan Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan Kota Bandar Lampung.
Acara ini berlangsung cukup menarik terumata pada sesi diskusi di mana peserta sangat perhatian dengan konservasi dan memberikan masukan-masukan yang positif untuk upaya konservasi yang dilakukan oleh pemerintah bersama-sama dengan masyarakat maupun instansi terkait.
Pada acara ini Kepala Balai KSDA Lampung sekaligus melakukan pengukuhan Forum Komunikasi Penangkar, Pengumpul dan Pedagang yang sudah terbentuk pada kegiatan pembinaan tahun sebelemnya. Forum ini bertujuan antara lain untuk mengkoordinir semua masyarakat yang memanfaatkan tumbuhan dan satwa liar di Provinsi Lampung agar terkontrol dan saling memberi informasi dan bersinergi dengan pemerintah untuk melaksanakan kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di Indonesia dan khususnya di Provinsi Lampung.
Susunan kepengurusan forum ini adalah sebagai berikut :
Ketua
Wakil
Sekretaris
Bendahara
:
:
:
:
M. Irwan Nasution (Taman Satwa Lembah Hijau )
Ir Gunadi D W, M.Si (UNILA)
Hasta Syarif P, SE (Taman Satwa Bumi Kedaton)
Ir. Hi. Agung Rusyanto (Gula Putih Mataram)       
Seksi-seksi    ;
Lembaga Konservasi
Penangkar
Transplantasi
Pengumpul/Pedagang
Kesehatan Satwa
:
:
:
:
:
Tomo Rachmadi (Taman Satwa Bumi Kedaton)
Slamet Riyadi (Great Giant Pineaple)
Tukino ( Tropical Aqua World)
Yusmianto (Pengumpul Reptil)
drh. Rifki Fabilah (Taman Satwa Lembah Hijau)

PROSES KELAHIRAN HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae) DI TAMAN SATWA BUMI KEDATON BERAKHIR DUKA


 

Bumi Kedaton merupakan salah satu Lembaga Konservasi dalam bentuk taman satwa yang ada di Provinsi Lampung telah mendapatkan ijin sebagai Lembaga Konservasi dari Menteri Kehutanan pada tahun 2006 dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : SK. 525/Menhut-II/2006 tanggal 30 November 2006 tentang Pemberian Ijin Sebagai Lembaga Konservasi Dalam Bentuk Taman Satwa Kepada PT. Bumi Kedaton.

  Salah satu satwa koleksi yang ada di Taman Satwa Bumi Kedaton adalah jenis Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang didatangkan dari Kebun Binatang Ciantar, Medan, Sumatera Utara pada tahun 2007 dengan jumlah sebanyak 2 (dua) ekor (1ekor jantan dan 1 ekor betina).

  Pada perkembangannya di Taman Satwa Bumi Kedaton cukup bagus sehingga mengalami proses perkawinan, hamil hingga melahirkan. Awalnya diketahui bahwa Harimau betina mengalami menstruasi pada tanggal 16 November 2010 oleh petugas pengelola, pada tanggal 27 Desember 2010 diperkirakan telah positif hamil. Mendapat kabar gembira ini, perhatian ekstra dari pengelola terus ditingkatkan dan konsultasi medis terus dilakukan oleh pengelola untuk menjaga janin yang ada dalam kandungan Harimau betina agar tetap sehat. Atas saran dokter hewan, pemberian vitamin untuk kesehatan sang “ibu” terus ditingkatkan.

  Akhirnya hari bahagia yang ditunggu-tunggu oleh semua pemerhati konservasi Harimau untuk melihat hadirnya dua ekor makhluk hidup baru yang akan lahir dari rahim Harimau betina di Taman Satwa Bumi Kedaton tiba-tiba terjadi pada tanggal 20 Januari 2011 yakni proses melahirkan. Hari lahirnya Harimau ini lebih cepat dari perkiraan tim medis yang seharusnya lahir pada akhir Februari 2011 atau awal Maret 2011 karena masa kehamilan Harimau Sumatera adalah sekitar 103 hari.

  Meskipun demikian, harapan kita hanya satu, cepat atau lambat / bahkan lebih cepat lebih baik asalkan kelahiran itu selamat dan sehat untuk menambah jumlah daftar satwa liar jenis Harimau Sumatera di negeri ini, khususnya di Taman Satwa Bumi Kedaton.

  Namun hari bahagia yang ditunggu itu berubah menjadi duka. Ya, duka itu menyelimuti semua pencinta satwa liar jenis Harimau Sumetra di mana pun berada utamanya pengelola Taman Satwa Bumi Kedaton dan Balai KSDA Lampung, karena terjadi kelahiran yang prematur / abnormal sehingga anak sang Harimau mati.

  Ya meskipun anaknya telah tiada, namun kita harus berbesar hati dan percaya bahwa kehidupan dan kematian adalah rahasia Sang Pencipta. Maka usaha dan perhatian kita akan konservasi Harimau Sumatera harus tetap ditingkatkan melalui upaya konservasi in-situ maupun ex-situ. Terlebih untuk Lembaga Konservasi Bumi Kedaton jangan sampai putus asa / semangat untuk memberikan perhatian kepada satwa Harimau di Taman satwa Bumi Kedaton. Semoga di hari yang akan datang kelahirannya selamat.

  Klasifikasi Ilmiah Harimau Sumatera; Kerajaan : Animalia, Filum : Chordata, Kelas : Mamalia, Ordo : Carnivora, Famili : Felidae, Genus : Panthera, Spesies : Panthera tigris, Upaspesies : Panthera tigris sumatrae. (by: SX).